Kota Medan Semakin Mengerikan, Begal-begal Sadis Berkeliaran…

Kota Medan Semakin Mengerikan, Begal-begal Sadis Berkeliaran…

MEDAN, KOMPAS.com – Wajah Ester mendadak muram saat diminta menceritakan peristiwa tragis yang dialaminya pada Agustus 2015 lalu. Sambil melemparkan pandangan ke arah kiri, perempuan 43 tahun ini bergumam. “Masih trauma dan takut aku…” Lama dalam geming, dia akhirnya berubah fikiran, mungkin ceritanya akan membuat orang lain mawas diri, sebab sekarang Kota Medan begitu mengerikan, begal- begal sadis dan tega berkeliaran. “Aku khawatir sekali, masih trauma, apa yang terjadi sama ku itu buat luka dan takut. Apalagi aku masih harus pulang malam karena tuntutan pekerjaan,” katanya kepada Kompas.com, Minggu (1/9/2019). Matanya menerawang, mengingat Jalan Pattimura Medan yang dilintasi usai mengantar temannya ke stasiun kereta api. Azan Subuh baru hilang dari pendengaran saat Ester sampai di depan SPBU yang sampingnya kuburan. Perempuan berambut ikal panjang ini dipepet dua pria yang mengendarai satu sepeda motor. Salah seorang pelaku menendang motornya, Ester tercampak ke aspal dan terseret beberapa meter. Beruntung seorang petugas jaga malam mendengar teriakan dan segera menolongnya. “Luka fisik yang ku alami cukup serius, belum lagi kerugian dan ancaman yang sepertinya dari pelaku. Meski dia di dalam penjara, tapi bisa mengirim pesan lewat messenger yang mengabarkan kalau dia akan segera ke luar dari penjara. Aku khawatir… Apalagi isi berita, begal di mana-mana,” ucapnya dengan mimik memelas.

Minta polisi bekerja lebih keras di jam rawan

Ester meminta polisi bekerja lebih keras, mengusut tuntas dan cepat kasus-kasus begal. Berpatroli lebih gencar dan sering tidak hanya di jam-jam rawan. Pagi hari saat orang-orang akan berangkat kerja dan para pekerja shif malam pulang juga waktunya begal beraksi karena kejahatan jalanan tak mengenal waktu. Kepada Pemerintah Kota Medan, permintaannya supaya menerangi semua ruas-ruas jalan yang minim penerangan. “Waktu aku dulu, itu jalan gelap, gak ada lampu jalannya,” bilangnya sambil menggeleng. Soal hukuman, perempuan suku Batak ini tegas mengatakan tidak setimpal dan adil. Seperti kasus yang dialaminya, pelaku hanya dihukum 30 bulan penjara padahal apa yang mereka lakukan hampir menghilangkan nyawa. Menurut kawan-kawannya yang mengerti hukum, perbuatan pelaku adalah percobaan pembunuhan karena sengaja mencelakai orang tanpa belas kasihan, harusnya dihukum lebih dari lima tahun. “Tapi kebanyakan dihukum di bawah dua tahun, tidak efek jera…” sungutnya. Dari balik jeruji, para pelaku masih bisa mengancam dan merencanakan aksi selanjutnya. Semua dilakukan lewat telepon seluler yang diduga digunakan di dalam bui. Ester membuktikan hal ini dengan mengungkapkan, pemilik akun Facebook yang mengancamnya ternyata sedang menjalani hukuman. “Dari akun yang mengancam aku itu, ketahuan mereka komunikasi via Facebook. Mereka komen-komenan merencanakan aksi selanjutnya. Jadi kalau bisa, di penjara pun dimonitor atau diawasi penggunaan handphone karena dari situ bisa jadi awal kejahatan,” katanya lagi.

Hukuman ringan, pelaku masih muda dan tidak jera

Ditanya apakah kesenjangan sosial yang membuat para begal nekat terus beraksi, Ester angkat bahu lalu menggeleng. Pelaku rata-rata berusia muda, bukan usia mapan yang membutuhkan stabilitas ekonomi. Narkoba dan eksistensi diri adalah kata kunci. Para pelaku beraksi hanya untuk membeli narkoba dan ingin terlihat hebat di mata komunitasnya. “Yang begal aku umurnya 20-an, bukan bapak-bapak. Kan, gak ada orangtua jadi pelaku, kan? Mereka geng motor. Pas polisi gerebek markas mereka, ada puluhan sepeda motor curian di sana. Semuanya terindikasi untuk narkoba…” pungkas Ester. Dua pembegal Ester ditangkap Polsek Medan Kota pada April 2016 malam di kamar kos mereka di Jalan Turi, Medan. Keduanya adalah Nasrullah Pratama alias Nasrul alias Robert (21), dan Angga Tiara alias Amek (20). Kepada polisi, Nasrul mengaku sudah 20 kali beraksi sedangkan Angga 13 kali di berbagai lokasi.

Driver ojol pun takut aksi begal

Arbaiyah Saragih, driver ojek online yang ditemui ketika mengantar orderan di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara jujur mengatakan dirinya takut melihat maraknya kejahatan jalanan di Kota Medan saat ini. Memang selama dua tahun menekuni pekerjaannya, perempuan berhijab ini belum pernah merasakan gelagat atau nyaris jadi korban kriminalitas di jalan. “Sebenarnya takut, jadi lebih hati-hati. Kalau antar orderan, cek lokasi dulu. Kalau tau daerahnya rawan minta dibatalkan atau saya konfirmasi ke pelanggan, nanya apakah lokasinya aman? Saya liat jamnya juga…” katanya. Dia bekerja usai mengantar anaknya sekolah, sekira pukul 10.00 WIB. Tengah hari, ia menjemput sang anak pulang sekolah lalu kembali ke rumah sampai pukul 14.30 WIB. Sekitar empat jam dia kembali bekerja, pukul 20.00 WIB biasanya sudah di rumah. “Gak pernah sampai malam-malam kali, kita jaga-jaga dan lebih hati-hati ajalah…” ujarnya.

Medan darurat begal

Juniawan Simanjuntak, warga Jalan Periuk, Ayahanda Medan yang bekerja sebagai mekanik di Kawasan Industri Medan juga turut resah dengan keamanan dan kenyamanan Kota Medan yang dirusak oleh aksi-aksi kejahatan. Walau jam kerja laki-laki yang sudah 30 tahun bekerja di pabrik logam ini tidak masuk jam rawan, tapi ketakutan tetap melandanya. “Arah ke Belawan terutama, sering kejadian itu. Waktu di Kota Bangun, pernah digorok di situ. Ya, maunya harus betul-betul amanlah Medan ini. Polisi harus lalu-lalang, kalau tidak begal-begal tak takut. Mereka juga punya alat komunikasi canggih yang bisa mengetahui polisi di mana, maka polisi harus lebih canggih lagi. Buat masyarakat, kalau berselisihan sama geng motor, pura-pura tak nengok aja, langsung tancap gas,” katanya.

Enggan keluar rumah, takut jadi korban begal

Sementara Rum, mahasiswa semester akhir di USU, sejak bekal kembali marak, memilih berdiam di kos-kosan saja. Pilihannya ini diperkuat saat mengetahui ada mahasiswa fakultas lain yang jadi korban begal. Tangannya penuh luka sayatan bekas sabetan kelewang pelaku. Apalagi katanya, sekarang ini gampang, mau pesan makan dan minum tinggal buka aplikasi. Jadi tak perlu antre dan berada di jalanan, lebih aman. “Kalau tak penting kali, tak usah keluar. Cari aman aja kita, ngeri nengok begal-begal itu…” katanya sambil berlalu. Begitu juga Armina, ibu dua anak yang tinggal di Jalan Setia Budi Ujung, tak lagi mau ke luar rumah jika tak penting benar. Diingatnya, lima tahunan lalu, dirinya masih sering pulang larut malam dengan sepeda motor. Sengaja dia memilih pulang menjelang pagi supaya tidak terjebak macet di jalanan. Sekarang, Mina sudah deg-degkan kalau masih di luar rumah di atas jam 20.00 WIB. “Udah takut aku pulang malam sekarang, gak aman lagi di mana-mana. Mungkin kalau ada teman atau rame-rame, masih lebih tenang. Kalau sendirian, bawaan kita curiga terus, takut terus. Ada yang mepet atau dekat sikit aja, langsung curiga begal,” katanya tertawa. Lebih baik mencegah ketimbang cari gara-gara, kata perempuan ramah ini. Tetap korban yang dirugikan, khususnya perempuan. Sudah hampir kehilangan nyawa, hilang harta benda, rusak fisik, hukuman untuk pelaku cuma hitungan bulan. Dia ingin, bagi pelaku begal yang mengulangi perbuatannya supaya hukumannya diperberat, ditambah jumlahnya biar tak mengulangi lagi. “Ini ku baca, ada yang udah bolak-balik masuk penjara, tak jera-jera juga. Ada yang ditembak pun, tak jera juga, cemanalah ya… Ngeri aku,” ungkapnya sambil merapikan kacamata.

Kapolda Sumut perintahkan tembak mati begal, tapi…

Ada dua masalah dalam pandangan praktisi hukum Julheri Sinaga soal tembak mati yang diperintahkan Kapolda Sumut untuk para begal yang membandel. Pertama, dalam aturan hukum dijelaskan bahwa untuk menegakkan hukum tidak boleh cara melanggar hukuman. Tembak mati harus ada alasan yang kuat dan berdasarkan keputusan pengadilan. Penegak hukum boleh melakukan penembakan kepada seseorang yang diduga melakukan kejahatan dengan syarat apabila membahayakan nyawa petugas dan hendak melarikan diri. “Boleh dilakukan penembakan tapi tidak mematikan, yang boleh ditembak dari pinggang ke bawah, dan itu harus ada peringatan, tembak ke atas dulu. Bukan berarti kita mendukung begal. Ini sikap orang yang mengerti hukum. Tembak mati itu melanggar hukum, masa oang ditembak mati, melumpuhkan boleh…” katanya. Pandangan kedua, maraknya begal membuktikan penegakan hukum tidak berjalan sebagai mana mestinya.

Pencegahan lebih efektif?

Cara paling efektif selain tembak mati adalah pencegahan. Polisi harus merangkul masyarakat, bisa dimulai dengan kembali menggalakkan pos keamanan lingkungan (poskamling) yang merupakan budaya warisan dan adat ketimuran. “Saya lebih cenderung ke pencegahan ketimbang tindakan. Kalaupun dilakukan penindakan, ya penegakan hukum, bukan melanggar hukum. Pencegahan cenderung sebagai upaya menyelamatkan orang,” imbuhnya. Tentang keadilan hukum yang tak diterima para korban, Julheri bilang, keadilan itu relatif. Dalam keadaan tertentu, sanksi hukum memang harus diperberat. Tapi jangan salah, penghukuman bukan aksi balas dendam, makanya tetap pencegahan yang terbaik. “Karena bisa saja korban kehilangan nyawa, luka dan menderita. Sementara pelaku juga kehilangan nyawa karena ditembak atau dimassa. Saya lebih cenderung penegakan hukum itu harus memanusiakan manusia, memperlakukan manusia secara manusiawi…” tegas dia. Ditanya apakah juga mengikuti perkembangan Kota Medan yang saat ini menjadi daerah rawan begal, Bang Jul, begitu panggilannya membenarkan dan mengaku takut kalau sedang membawa kendaraan di titik-titik merah kejahatan. “Tapi sama aja kita sama penjahat kalau menegakkan hukum dengan melanggar hukum, kan?!” tanya sambil mengakhiri percakapan.

Kemungkinan akibat narkoba, hingga ketimpangan ekonomi

Dari kacamata sosiologi, persoalan kriminalitas jalanan sudah multi dimensi. Kemungkinan besar akibat konsumsi narkoba yang membuat pelaku memiliki keberanian di atas rata-rata. Tidak ada lagi rasionalitas dan terang-terangan di depan umum. Kemudian berhubungan dengan sindikasi dan keberadaan geng-geng motor. “Gerombolan-gerombolan anonim, tidak ada orang yang bertanggungjawab sehingga mereka sangat berani,” ucap Muba Simanihuruk. Apakah ketimpangan ekonomi yang menjadi faktor pencetus, sosiolog USU ini bilang, semua orang merasakan ketimpangan ini. Namun tidak harus menyalurkannya dengan begal sepeda motor. Kenapa tidak merampok ramai-ramai tanpa membawa sepeda motor? Walau sepeda motor menjadi alat atau cara untuk melarikan diri dan menghilangkan jejak. Kenapa bukan mobil? “Walaupun akarnya ada di kesenjangan, makanya saya bilang multi dimensi. Atau ini bagian dari perlawanan kaum tertindas kepada kaum kapitalis yang menikmati ekstak kekayaan kota. Atau bisa jadi, mereka remaja labil yang diajak untuk menunjukkan jati diri dengan cara salah,” katanya menjelaskan. Solusi paling mudah tapi berbiaya adalah memasang kamera pengintai di zona-zona rawan begal. Ditambah razia yang bukan sekedar rutinitas, tapi bagian dari pencegahan dan penindakan. Dia mencontohkan, ketika akan berangkat ke kampus dan mengetahui polisi sedang menggelar razia, dirinya pasti segera menyiapkan perlengkapan dan surat-surat penting. “Kadang kita terasing dan merasa sendiri sehingga sulit kita mendapatkan keamanan dan kenyamanan itu,” katanya.

Hukum rimba

Namun perasaan ini bukan berarti melegalkan masyarakat main hakim sendiri untuk menghukum para pelaku kejahatan. Muba tidak membenarkan hukum rimba ini berlaku dan terjadi. Meski hatinya terbelah dan terusik, satu sisi melihat korban mengalami penderitaan dan kesedihan yang panjang. Sisi lain melihat pelaku diarak ke sana-sini kemudian dimassa sampai mati. “Pengeroyokan massal adalah hukum balas dendam yang dilegalkan kelompok masyarakat, ini gak benar… Itu bukan jalan keluar, ketemu begal dihabisin, ketemu korban dihabisin juga, kita malah membuat spiral kekerasan yang tidak ada ujungnya,” sebut dia. Sebelum mengakhiri komentarnya, Muba mengajak masyarakat menghindari jalur-jalur rawan begal apalagi di larut malam. Kalau memang sangat mendesak, tidak sendirian. Menurutnya, beginilah kehidupan masyarakat berisiko (risk society) jaman now. Persoalannya bukan hanya soal begal, mulai pemadaman listrik, lampu lalu lintas mati, tidak ada polisi, semuanya berisiko. “Semuanya berisiko, kehidupan kota itu memang seperti inilah…” tutup Muba. (link berita)

Newsletter Subscibe

Subscribe to our mailing list to get the updates to your email inbox.

Contact Us

  • Jln. amal luhur, komp tata harmoni no. B32 ,
    Medan, Indonesia
  • 0813.6117.5555
  • satugpsmedan@gmail.com

About Us

SatuGPS adalah nama populer di industri GPS kota medan, dengan ribuan klien yang puas. Kami membawa solusi standar GPS kelas internasional di indonesia terutama kota medan. Peningkatan berkelanjutan kami, dedikasi untuk menghadirkan solusi ultra modern kepada klien kami dengan harga yang murah dan tidak pernah kompromi pada faktor kualitas telah menjadikan kami nama yang paling dihormati di arena ini. Lini produk Pelacakan GPS kami membantu perusahaan dan personal mengurangi biaya operasional dan mengelola aset lebih efisien.

Copyright © 2010 - 2019 SatuGPS. All Rights Reserved.

× Klik disini untuk chat whatsapp